Janji
Kami bertemu di saat kami telah memiliki rumah sendiri, rumah yang dibangun dari janji-janji lama, yang tak boleh retak hanya karena getar rasa yang datang tiba-tiba. Di dalamnya ada tawa yang telah berakar, ada nama-nama yang harus kami jaga, ada bahagia yang tidak diciptakan untuk kami lepaskan begitu saja. Rumah itu berdiri sebagai pengingat, bahwa tidak semua pintu boleh kami buka, tidak semua rasa berhak kami sambut. Maka kami memilih berdiri di ambang, tidak masuk, tidak pula pergi, hanya diam, memahami batas yang tak tertulis. Kami pun menyusutkan jarak, bukan karena tak ingin dekat, melainkan karena terlalu paham akibat. Kami menjaga hati seperti menjaga api kecil, agar tetap hangat tanpa membakar siapa pun. Kami menjauh satu sama lain, namun tak pernah benar-benar pergi. Sebab meski langkah kami berlawanan arah, pandangan kami bertaut pada tujuan yang sama. Kami menatap tanpa berani menyapa, berbicara tanpa suara, menyimpan ribuan kata di balik senyap. Hanya mata hati yan...