Janji

 Kami bertemu di saat kami telah memiliki rumah sendiri,

rumah yang dibangun dari janji-janji lama,

yang tak boleh retak hanya karena getar rasa yang datang tiba-tiba.

Di dalamnya ada tawa yang telah berakar,

ada nama-nama yang harus kami jaga,

ada bahagia yang tidak diciptakan untuk kami lepaskan begitu saja.


Rumah itu berdiri sebagai pengingat,

bahwa tidak semua pintu boleh kami buka,

tidak semua rasa berhak kami sambut.

Maka kami memilih berdiri di ambang,

tidak masuk, tidak pula pergi,

hanya diam, memahami batas yang tak tertulis.


Kami pun menyusutkan jarak,

bukan karena tak ingin dekat,

melainkan karena terlalu paham akibat.

Kami menjaga hati seperti menjaga api kecil,

agar tetap hangat tanpa membakar siapa pun.

Kami menjauh satu sama lain,

namun tak pernah benar-benar pergi.


Sebab meski langkah kami berlawanan arah,

pandangan kami bertaut pada tujuan yang sama.

Kami menatap tanpa berani menyapa,

berbicara tanpa suara,

menyimpan ribuan kata di balik senyap.

Hanya mata hati yang berani jujur,

berdialog dalam diam yang panjang.


Kami tidak menyalahkan takdir,

karena ia hanya mempertemukan, bukan memaksa.

Kami pun tak menyesal pernah saling mengenal,

sebab dari pertemuan ini

kami belajar tentang menahan diri,

tentang cinta yang tidak selalu meminta pulang.


Kami tahu apa yang harus kami lakukan:

mencintai tanpa memiliki,

merasa tanpa menggenggam,

mengikhlaskan tanpa membenci.

Biarlah rasa ini tetap ada,

bukan untuk dimenangkan,

melainkan sebagai pengingat yang lembut—


bahwa tidak semua yang indah harus menjadi milik,

bahwa ada rasa yang cukup disimpan,

agar semua yang telah kami bangun

tetap utuh,

tetap bernama rumah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pacaran Nggak Selalu Manis: Yuk Lihat dari Sisi Agama, Psikologi, dan Kesehatan Mental

Pulang

Mental Health: The Best Investment for Our Future