Rindu tak berujung

 Di antara dua hati yang saling memanggil, ada sunyi yang lebih lantang dari segala teriakan. Mereka berdiri di hadapan sebuah tembok yang tinggi—bukan hanya dari batu dan waktu, tetapi dari takdir yang tak pernah mau mendengar. Setiap kali tangan mereka hampir bersentuhan, semesta seakan meniupkan angin yang memisahkan, seolah cinta mereka adalah rahasia yang tidak boleh dibiarkan tumbuh, tidak boleh dibiarkan mekar menjadi kenyataan.

Mereka mencintai dalam diam, seperti dua bintang yang saling menatap dari ujung langit yang berbeda. Cahaya keduanya saling merindu, namun jarak adalah garis tak terlihat yang tidak pernah mau pudar. Mereka tahu, jika mereka berlari, mereka akan lelah; jika mereka menunggu, mereka akan hancur. Maka mereka memilih diam—diam yang penuh sesak oleh harapan yang tidak pernah padam, dan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Terkadang, ketika malam menua dan dunia menjadi rapuh, mereka membayangkan sebuah semesta yang lebih lembut, tempat tembok itu runtuh tanpa suara, tempat tangan mereka bisa saling menggenggam tanpa harus mencuri waktu dari takdir. Namun itu hanya mimpi, hanya bayangan dari cinta yang tidak diizinkan tumbuh. Kenyataannya, mereka berjalan di dua jalan yang tak pernah bersinggungan, namun selalu dipenuhi jejak satu sama lain.

Semesta mungkin tidak berpihak kepada mereka, namun cinta itu tetap hidup—diam, tersembunyi, namun tidak kalah indahnya. Ia tumbuh di sela-sela pasrah, berakar di dalam dada, menggema dalam detak yang tak pernah mereka ucapkan. Cinta itu tidak menjadi milik mereka, tetapi tetap menjadi rumah bagi luka dan rindu yang paling setia.

Dan meski mereka tak bisa saling memiliki, mereka tetap saling menjaga dari jauh, seperti doa yang tidak pernah diucapkan namun selalu sampai. Sebab tidak semua cinta harus berakhir dengan genggaman; beberapa cinta diciptakan hanya untuk bertahan, bukan untuk dimenangkan. Beberapa cinta hidup dalam diam—dan dalam diam itu, mereka menemukan satu sama lain, lagi dan lagi, tanpa pernah benar-benar bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pacaran Nggak Selalu Manis: Yuk Lihat dari Sisi Agama, Psikologi, dan Kesehatan Mental

Pulang

Mental Health: The Best Investment for Our Future